“Ibu…Selamat ulang tahun ya..Semoga Ibu selalu sehat, sabar dalam mendidik kami dan selalu ada dalam lindungan Allah SWT, amiin..”
Ya, hari ini Ibuku ulang tahun. Ke 48. Keluargaku bukan tipe yang suka memperingati ulangtahun setiap anggotanya dengan acara tertentu, tidak ada yang special malah. Cukup ucapan selamat dan doa tulus mengiringi bertambahnya usia.
Membicarakan ulang tahun, artinya membicarakan juga tentang waktu. Sepertinya baru kemarin kita lulus SMP, sekarang sudah bekerja bahkan ada yang sudah menikah dan punya anak, sudah jadi orang tua. Seringkah kita berpikir tentang apa-apa saja yang sudah kita perbuat selama hidup? Banyak yang bermanfaatkah atau malah merugi? Yuk sejenak balik ke masa lalu, banyak kejadian yang sudah terjadi bukan? Bagaimana reaksi bibir kita, tersenyum senangkah atau malah kecut? Yang jelas, ada pahit ada manis, ada senang ada sedih, ada terhormat ada terpuruk. Puaskah dengan apa yang sudah kita jalani selama ini? Saya pribadi BELUM. Sungguh, saya belum menjadi manusia yang sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan penciptaan kita. Masih banyak memperturutkan nafsu dunia, padahal kita ini KHALIFAH di muka bumi. Manusia itu dimuliakan, ditinggikan Penciptanya dibandingkan makhluk dan ciptaan lainnya. Tapi entah kenapa kita menjadi pembantah dan pembangkang. Kalaupun bukan pembantah, kita baru sampai tahap menyadari kesalahan kita tanpa berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi manusia lebih baik. Keinginan untuk berbuat baik banyak, tapi tidak ada realisasinya, baru sekedar nyantol di otak. Ya Tuhan, sungguh aku manusia yang merugi, banyak betul khilafnya.. Ampun ya Rabb..
Sesungguhnya sujud ini masih jauh dari sempurna, masih jauh dari harapan, dan tidak akan bisa mengimbangi dosa-dosa yang pernah dilakukan..padahal Engkau berhak mendapatkan yang lebih. Miris mendapati diri ini meratap, menyesal dan tidak berdaya.
Malam ini ada tayangan TANPA TANDA JASA di salah satu stasiun TV swasta. Sekelompok orang di Tasikmalaya yang peduli terhadap orang-orang yang memiliki kelainan jiwa. Mereka menemukan dan mengambil saudara-saudaranya yang malang dari pasar, jalan raya dan dari tempat umum lainnya untuk kemudian dibina agar kembali menjadi sadar. Tempat rehabilitasinya sangat sederhana, bekas terminal dan kios-kios yang sementara tidak terpakai, jendelanya dari bambu yang dipasang bersilang, alas duduk di dalamnya hanya karpet lusuh yang tidak menutupi seluruh ubin peluran. Dadang Haryadi dan rekan-rekannya, mereka yang melakukan ini. Bapak-bapak yang wajahnya sederhana ini tetapi memiliki hati yang bersih. Biayanya dari mana? Dari hasil mengamen ataupun meminta sumbangan dari orang yang sama hatinya dengan mereka. Tidak ada dana dari pemerintah? Tidak ada, sulit. Ya, kami tau itu Pak..
Aku iri melihat tayangan itu. Aku juga ingin seperti Dadang Haryadi dan teman-temannya. Aku ingin, aku ingin, dan aku ingin... Mereka sudah berada di jalur yang tepat, mereka sudah menempatkan dirinya sebagai Khalifah. Semoga keistiqomahan tetap ada di hati mereka walaupun dengan segala keterbatasan yang ada.
Bagaimana menurut sahabat? Apa yang bisa kita bantu untuk orang-orang seperti mereka? Tidak inginkah kalian menjadi manusia yang benar-benar manusia? Tidak perihkah hati kalian mendengarnya? Yuk, mulailah dengan berbagi masukan positif, ide atau apapun yang membawa kita melangkah dekat menjadi insan yang sebaik-baiknya. Aku bukan bagian dari stasiun TV itu, bukan siapa-siapa. Aku juga bukan orang yang pintar, perlu bantuan masukan dari sahabat semua..
Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca blog ini dan untuk segala sharingnya. Terimakasih..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar